Fiqy Rabbanis--1996. Pianissimo. Vivase. Adagio.

Nymph`s Room

A nice, personal writing pad for my thoughts 'n stuff. Classy girly, owl fancy, let's escape ❤︎

Mimpi cuma mimpi.
Mimpi bisa jadi bunga tidur,
Atau mimpi bisa jadi petunjuk.

Bunga tidur atau petunjuk?
Kalau dipikir dengan akal sehat,
Rasanya tidak mungkin terjadi,
Terlalu mengada-ngada,
Terlalu jauh..
Mungkin cuma bunga tidur,
Sebagai hiburan,
Dari rasa stress yang melanda tubuh ini.

Tapi jika hanya sekedar bunga tidur,
Kenapa hadir tiba-tiba disaat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya?
Kenapa suaranya terdengar begitu jelas,
Begitu nyata,
Sampai menggetarkan hati ini,
Begitu hangat,
Sampai berdebar hati ini.
Siapa engkau?
Kapan kita bertemu?
Akankah hal itu sungguh terjadi?
Aku, dan.. kau?
Aku kenal kamu, tapi kamu gak pernah kenal aku.
Sungguh,
ini terlalu jauh…
Kamu terlalu jauh untuk digapai..
Hanya waktu yang dapat menjawab..

Kisah Pilpres di Kamar Mandi

  • Di kamar mandi bersebelahan;
  • Nenek: Qy..
  • Saya: Apa?
  • Nenek: Lagi ngapain?
  • Saya: Mau mandi..
  • Nenek: Bukan mau nyetor? Mengeluarkan gumpalan-gumpalan?
  • Saya: -_-. Bakso jamban.
  • Nenek: Hehehe. Qy..
  • Saya: Apa bu?
  • Nenek: Menurut hasil survey terhadap 100 orang, ternyata semuanya, 100 orangnya itu pilih Prabowo tau.
  • Saya: Wah, hebat? Dimana? (Rada kaget)
  • Nenek: Di kantor pemenangan gerindra.. Hehehe
  • Saya: -_-.
Mengapa gangguan syetan pada bulan Ramadhan lebih besar dan lebih sulit dihadang daripada bulan-bulan yang lain..
Sudahlah….
Terlalu sulit memang melawan emosi… Tak terkendali.

Karena dikatakan dalam surah AL-‘ALAQ, ayat 8-19:
“Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu).
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat,
bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang shalat itu) berada diatas kebenaran (petunjuk),
atau dia menyuruh bertakwa (kepada ALLAH)?
Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling?
Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya ALLAH melihat (segala perbuatannya)?
Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian),
niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka),
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka.
Maka, biarlah ia memanggil golongannya (untuk menolongnya).
Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa),
sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada ALLAH).”

Bagaikan petunjuk, seperti saat-saat sebelumnya..
Yang membuat hati ini takut, setakut-takutnya akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi nanti..
Ya ALLAH.. Selamatkanlah kami..
Janganlah Engkau biarkan hal itu terjadi ya ALLAH.. Jangan..

Selamatkanlah kami ya ALLAH.
Selamatkanlah kami ya ALLAH.
Selamatkanlah negeri kami ya ALLAH…!! :’(
Dengan apa kami harus berjihad agar tetap menegakkan agamaMu..?
Dengan siapa pemimpin yang akan membimbing langkah kami nanti..?
Apa kami harus pergi?
Tapi kemana kami harus menyelamatkan diri..?
Atau kami hanya bisa pasrah, karena kami hanya rakyat jelata yang tak berdaya?
Nothing place save for us tomorrow if it really happen… :’(
Berikanlah petunjukMu kepada kami ya ALLAH,
Agar kami tahu mana yang harus kami hindari,
Mana yang harus kami jauhi,
Dan mana yang harus kami tahan langkahnya,
Sebelum terlambat..
Sebelum penyesalan bagaikan bumerang yang kami lemparkan berbalik membunuh kami, ya ALLAH…
Amin Yaa Rabbal Aalamiin :’(

Apakah kau akan berlari?
Kemana kau akan berlari?

Apakah kau akan mencari tempat yang aman?
Dimana tempat yang aman?

Apakah kau akan bersembunyi?
Kemana kau akan bersembunyi?

Apakah kau akan meninggalkan kami? Di tanah air kami sendiri?

Apakah kau akan mencari negeri lain, dimana penduduknya damai, aman, sentosa, dan meninggalkan kami, di tanah air kami sendiri?

Apakah kau akan menutup mata, menutup telinga, menutup hati, kepada saudara-saudaramu yang kau tinggalkan?

Membiarkan kami, saudaramu, mati perlahan dan membusuk karena siksaan yang kami terima dari penguasa keji?

Akankah tega kau meninggalkan kami, sahabatmu, saudaramu, keluargamu, tanah airmu, dan kau bersenang-senang karena hanya kau yang selamat?

Maka,
Apa yang akan kau lakukan..?

Apa yang akan kau lakukan, jika negara Indonesia kita ini kembali menjadi negara jajahan?

Atas perintah negara lain, rakyat kita disiksa oleh orang pribumi juga?

Saat para pemimpin terbaik kita disiksa dan dibunuh,

Saat para lelaki disandera, dijadikan budak, disiksa, kemudian dibunuh,

Saat para wanita disandera, dijadikan pelacur, disiksa, kemudian dibunuh,

Saat anak-anak tak lagi mengenal siapa orang tuanya karena telah dibunuh,

Saat anak-anak tak berdosa mati karena dibunuh, atau mati perlahan karena tak ada yang merawat dan memberi makan,

Saat siapa saja yang ketahuan berdo’a kepada Tuhannya seketika ditarik, dibantai, kemudian dibunuh,

Saat tak seorang pun boleh menyembah Tuhannya,

Saat kebebasan seperti yang kita rasakan sekarang ini telah hilang,

Saat semua orang tak boleh lagi menuntut pendidikan,

Saat semua orang tak bisa lagi bersenda gurau dengan para sahabatnya,

Saat bersantai dan bercengkrama dengan keluarga tercinta telah hilang,

Saat bulan Ramadhan yang penuh berkah telah hilang…

Apa yang akan kau lakukan..?

Setelah mendengar apa yang baru saja kakak saya bicarakan, saya hanya terdiam. Yang saya lakukan hanya berpikir, dan sepertinya saya sampai men-judge kakak saya sendiri “Termakan Khayalan Palsu” atas kebutaannya terhadap politik, terutama politik Indonesia, meskipun beliau adalah seorang mahasiswa S2 dan baru saja menerima beasiswa di NUS, beliau tidak terlalu paham mengenai dunia politik yang sesungguhnya, lebih tepatnya intervensi dari pihak-pihak yang menjalankan politik itu sendiri, apalagi kelas kakap begini. Hehe

Menurut saya, mahasiswi yang masih menginjak semester 2 di salah satu Universitas Negeri di Indonesia ini, beliau hanya menerima/ mencari informasi “tersurat”, tetapi tidak mencari informasi asal usul secara detail, hubungan sebab-akibat, dan yang lebih penting; apa yang sebenarnya terjadi dibelakang kampanye tiap-tiap calon.
Jika kita ingin mencoba mengetahui lebih dalam, pasti tidak hanya sekedar kejelasan visi misi, latar belakang dan tujuan “tertulis” yang diperhatikan dari setiap calon, tetapi tentu akan lebih kompleks.
Ini lah yang menjadi permasalahan, seorang budayawan yang hanya melihat sifat dan perilaku calon calon pilihannya, tanpa memperhatikan unsur-unsur informasi diatas, istilahnya “Pemula” yang mengajak berdebat atas pendapatnya, tetapi beliau tidak mengetahui sebab-musababnya seorang calon itu begini begini begini, akan menimbulkan kesalahan persepsi dan pandangan yang kemudian akan lebih berbahaya lagi jika itu ia sebarkan ke orang-orang disekitarnya.
Hal ini lah yang sering terjadi di Indonesia. Dalam hal sekecil apa pun, kejadian seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari sehingga dampaknya adalah penyesalan yang terjadi atas kesalahan penilaian terhadap suatu objek tersebut.
Memang jika di putar balikkan, ini adalah salah satu hak kebebasan berpendapat. Tetapi pendapat yang menghasilkan penilaian tertentu haruslah didasari oleh berbagai unsur yang mempengaruhi penilaiannya, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Dan tidak seharusnya seseorang yang telah melakukan penilaian terhadap suatu objek mempublikasikan hasil penilaiannya kepada publik jika ia tidak melakukan penilaian yang didasari atas kedua unsur tersebut. Alhasil, sesat.
Beruntung jika tidak menimbulkan efek negatif yang berlebihan. Jika kerugian yang dihasilkan atas kesalahan penilaian yang telah ia sebarluaskan kepada publik itu besar dan terjadi secara jangka panjang? Penyesalan lagi.
Saya harap masyakarat Indonesia sudah lebih pintar menilai dan bertindak dalam melakukan sesuatu yang sifatnya menimbukan suatu dampak di masa yang akan datang. Tidak hanya dalam contoh kasus politik diatas, tetapi juga dalam setiap bidang. Sekecil apapun bidang itu. Sehingga dapat meminimalisasi efek negatif atas kesalahan penilaian yang terjadi.
Sekian ocehan saya,
Terima kasih.

"Bocah ingusan" .